Piru,Kilasnusantaranews.com – Alexander Lessil, Kepala Puskesmas Inamosol, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, kini menjadi sorotan tajam publik atas dugaan praktik pemalakan anggaran yang meresahkan.
Seorang pegawai dengan inisial M, yang mengaku tidak tahan dengan kondisi yang berlangsung bertahun-tahun, menyatakan dirinya beserta rekan-rekannya menjadi korban dan bahkan menerima ancaman dari oknum kepala puskesmas tersebut.
Menurut sumber yang dapat dipercaya, Alexander Lessil diduga memalak setiap pegawai yang melaksanakan perjalanan dinas. Setiap kali melakukan perjalanan dinas, pegawai dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp700.000 atau Rp500.000 per orang per perjalanan. Praktik ini diklaim telah berjalan secara rutin sejak tahun 2024, dengan total nilai yang diduga mencapai ratusan juta rupiah.
Bahkan, terdapat rekaman suara yang diduga merupakan percakapan Kapus yang meminta uang kepada Bendahara untuk dibagikan kepada beberapa dinas dan pihak terkait. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya penyalahgunaan wewenang dan penggelapan anggaran kesehatan.
“Kami sudah tidak tahan dan tertekan menghadapi kondisi ini setiap tahun. Kepala Puskesmas bertindak seperti preman yang memalak kami tanpa rasa takut,” ujar sumber tersebut dengan nada emosional.
Selain pemalakan, sumber juga menyebutkan bahwa Alexander Lessil mengancam para pemegang program agar tidak membocorkan informasi mengenai uang yang diambilnya. Oknum tersebut memberikan peringatan keras bahwa akan ada konsekuensi berat bagi siapa saja yang berani menyampaikan informasi ini ke pihak luar.
“Kepala Puskesmas mengancam kami agar tidak memberitahu siapapun tentang uang yang diambilnya. Jika kami memberitahu, ada konsekuensi yang akan kami hadapi. Kami takut, tapi kami sudah tidak sanggup menahan ini lagi,” tambahnya.
Mengingat dugaan pelanggaran yang sangat serius ini, sumber berharap agar Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat, Kepolisian, dan Kejaksaan dapat segera mengambil langkah hukum yang tegas dan tanpa kompromi terhadap Alexander Lessil. Anggaran kesehatan yang seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan tidak boleh lagi disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Kami berharap pihak berwenang dapat segera menindaklanjuti kasus ini dan memberikan sanksi yang tegas kepada yang bersangkutan. Anggaran kesehatan harus digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi oknum tertentu. Kami ingin keadilan ditegakkan,” tegas sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, media ini telah berusaha mengonfirmasi dugaan tersebut kepada Alexander Lessil melalui panggilan telepon dan pesan WhatsApp beberapa kali. Berbeda dengan sebelumnya yang tidak merespons, kali ini Alexander Lessil akhirnya memberikan tanggapan dan membantah keras adanya praktik pemotongan atau pemalakan dana perjalanan dinas tersebut.
Selain membantah, Kepala Puskesmas Inamosol juga meminta media ini untuk datang langsung ke lokasi puskesmas guna melakukan konfirmasi lebih lanjut dan melihat secara langsung terkait pengelolaan anggaran yang ada.
“Beta (Saya) tidak pernah potong ya, Pa. Nanti Pa ke PKM saja tanya langsung saja to, uang semua sudah masuk rekening masing-masing Pa,” jawab Kapus saat dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp-nya pada Selasa, 17 Maret 2026.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan pemalakan anggaran ini.
Menanggapi hal ini Sahril Pemuda Saka Mese Nusa menuntut penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan cepat untuk mengungkap kebenaran, memberikan keadilan bagi para korban, serta memastikan anggaran kesehatan tetap digunakan sesuai dengan tujuannya.
“Jangan biarkan oknum yang tidak bertanggung jawab terus merugikan masyarakat dan menghambat pelayanan kesehatan yang layak .” Tegasnya Sahril .(*)














