Kairatu, Kilasnusantaranews.com – Prestasi membanggakan diraih Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) saat keluar sebagai Juara Lomba 10 Program Pokok PKK Tingkat Provinsi Maluku dan membawa pulang hadiah sebesar Rp 25.000.000,00.
Namun, di balik piala dan piagam itu, tersimpan ironi yang sangat menyakitkan. Lahan di Desa Kairatu yang dulu dipoles sedemikian rupa demi memikat juri, kini kondisinya memprihatinkan. Tanaman yang ditanam rapi sudah lenyap, lahan ditumbuhi rumput liar setinggi orang dewasa, dan tidak ada satu pun aktivitas pertanian yang berjalan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber terpercaya, Muhammad Ashar, untuk mencapai predikat juara tersebut, diketahui Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat mengerahkan sumber daya yang sangat besar.
“Untuk persiapan lomba itu, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diwajibkan memberikan kontribusi dana dan tenaga. Anggaran yang terkumpul dan dikeluarkan nilainya jauh melampaui hadiah yang diterima, bahkan bisa mencapai ratusan juta,” ungkap Muhammad Ashar kepada media ini.
Uang rakyat itu digunakan untuk membuka lahan, membeli bibit, memupuk, hingga membangun fasilitas pendukung agar terlihat “mewah” dan produktif di mata tim penilai.
Namun, kenyataan pahitnya adalah: Semua itu hanya berlangsung sesaat.
Tim media yang meninjau langsung lokasi di Desa Kairatu, menemukan fakta yang sangat mencengangkan.
Kondisi Fisik: Kebun-kebun demonstrasi (demplot) yang dulu menjadi kebanggaan kini sudah tidak berbentuk. Tanaman hias maupun tanaman pangan sudah tidak ada.
Tidak Terawat: Lahan tersebut kini didominasi oleh semak belukar dan rumput liar yang tumbuh sangat lebat, seolah tidak pernah disentuh sejak hari penilaian selesai.
Tidak Produktif: Tidak ada aktivitas penanaman kembali atau pemeliharaan. Lahan-lahan yang dipakai untuk kebutuhan sesaat penilaian kini menjadi lahan tidur yang tidak menghasilkan apa-apa.
Masyarakat setempat pun mempertanyakan tujuan sebenarnya dari program ini.
“Untuk apa dipaksa keluar dana besar kalau hanya untuk penilaian sesaat? Apakah ini namanya program, atau hanya sekadar pamer demi gelar juara saja?”, tanya salah satu warga dengan nada kecewa.
Fenomena ini memunculkan kritik keras mengenai efektivitas program di Kabupaten Seram Bagian Barat Sangat Tidak Efisien: Biaya yang dikeluarkan secara kolektif oleh OPD sangat besar, namun manfaat yang dirasakan rakyat sangat singkat dan tidak berkelanjutan. Nil hadiah Rp 25 juta tidak sebanding dengan pengeluaran yang dilakukan.
Selain itu Hilangnya Fungsi Edukasi & Ekonomi: Seharusnya kebun PKK menjadi tempat belajar bertani dan sumber ketahanan pangan keluarga. Karena ditinggalkan, fungsi itu mati total. Tidak ada panen, tidak ada ilmu, dan tidak ada ekonomi yang berputar.
Budaya “Event Oriented”: Terlihat jelas pola kerja yang hanya mengejar penilaian. Begitu lomba selesai dan juara didapat, semangat pun hilang. Ini menunjukkan kurangnya komitmen terhadap keberlanjutan program.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak TP-PKK maupun Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat mengenai alasan kenapa lokasi tersebut dibiarkan mati suri.
Padahal, tujuan utama lomba 10 Program Pokok PKK adalah mengevaluasi, memotivasi, dan meningkatkan implementasi program untuk mewujudkan keluarga yang sehat, cerdas, berdaya, dan sejahtera.
Pertanyaan besar kini menggelayut di benak publik:Apakah gelar Juara Provinsi ini benar-benar untuk kesejahteraan rakyat, atau hanya sekadar stempel prestasi untuk menutupi lemahnya kinerja pembangunan?.(*)














