Piru,Kilasnusantaranews.com – Di tengah berbagai klaim pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, masih harus menghadapi kenyataan pahit: menggotong orang sakit dan jenazah dengan tenaga manusia karena kendaraan roda empat tidak dapat menjangkau desa mereka.
Pemandangan itu kembali terjadi pada Jumat, 19 Juni 2026. Ratusan warga secara bergantian memikul jenazah almarhumah Balandina Tibalimeten, 70 tahun, dari wilayah Taniwel menuju Desa Lohia Sapalewa untuk dimakamkan.
Almarhumah diketahui meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT di rumah duka setelah beberapa waktu menderita sakit. Menjelang sore hari, sekitar pukul 18.00 WIT, jenazah yang telah dimasukkan ke dalam peti mulai dibawa pulang menuju kampung halamannya.
Perjalanan tersebut bukan perkara mudah. Warga harus melewati jalur darat yang belum dapat dilalui kendaraan roda empat. Dengan kondisi jalan yang masih berupa akses terbatas sepanjang sekitar empat kilometer, jenazah harus dipikul secara bergantian oleh masyarakat hingga tiba di Desa Lohia Sapalewa.
Di sepanjang perjalanan, warga tampak bahu-membahu mengangkat peti jenazah melewati medan yang menanjak dan sulit. Bagi masyarakat setempat, pemandangan seperti itu bukanlah hal baru.
Setiap kali ada warga yang sakit dan harus dirujuk ke fasilitas kesehatan atau ketika ada warga yang meninggal dunia, masyarakat terpaksa mengandalkan tenaga manusia untuk mengangkut pasien maupun jenazah karena tidak tersedianya akses jalan yang memadai.
Kondisi tersebut menjadi potret nyata kehidupan masyarakat di wilayah yang masuk kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, mengatakan masyarakat selama ini hanya bisa berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat terhadap kondisi infrastruktur di wilayah mereka.
“Kami hanya bisa berharap pemerintah melihat kondisi masyarakat di pegunungan Taniwel. Sampai hari ini kendala terbesar kami adalah akses jalan menuju desa. Jarak sekitar empat kilometer lebih itu belum bisa dilalui kendaraan roda empat,” kata Thomas.
Menurut dia, keterbatasan akses tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat kesehatan.
“Ketika ada warga yang sakit atau meninggal dunia, kami harus bergotong royong memikul mereka. Bukan hanya orang sakit dan jenazah, kebutuhan masyarakat lainnya juga harus diangkut secara manual. Sampai sekarang kami masih sangat tertinggal dari sisi akses jalan,” ujarnya.
Thomas menilai pembangunan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat Desa Lohia Sapalewa dan sejumlah desa pegunungan lainnya di Kecamatan Taniwel.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari pusat kota atau wilayah pesisir, tetapi juga memperhatikan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yang selama ini masih mengalami keterisolasian.
“Kami berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, dan Pemerintah Pusat. Kami juga warga negara yang berhak mendapatkan pelayanan dan pembangunan yang sama. Sampai hari ini kondisi jalan di desa kami masih sangat memprihatinkan. Inilah kenyataan hidup masyarakat di pegunungan,” katanya.
Peristiwa pemikulan jenazah Balandina Tibalimeten kembali menjadi pengingat bahwa persoalan infrastruktur dasar di sejumlah wilayah pedalaman Maluku belum sepenuhnya terselesaikan. Di saat sebagian daerah menikmati kemudahan akses transportasi dan layanan publik, masyarakat di pegunungan Taniwel masih harus mempertaruhkan tenaga dan keselamatan mereka hanya untuk membawa orang sakit atau mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Bagi warga Lohia Sapalewa, jalan bukan sekadar proyek pembangunan. Jalan adalah akses menuju pelayanan kesehatan, pendidikan, perekonomian, dan hak hidup yang lebih layak.(*)














