Daerah  

PKS Maluku Turun ke Batu Merah , Fachri Husni Alkatiri Serahkan Bantuan Korban Kebakaran

banner 120x600

AMBON,Kilasnusantaranews.com — Ketika warga Batu Merah masih berhadapan dengan dampak kebakaran, bantuan kebutuhan dasar mulai disalurkan. Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS) Maluku bersama DPD PKS Kota Ambon turun langsung membantu warga terdampak, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Bantuan berupa kebutuhan pokok dan bahan makanan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua DPW PKS Maluku, Fachri Husni Alkatiri, kepada Raja Batu Merah Ali Hatala, Ambon. Penyerahan bantuan turut didampingi Sekretaris Wilayah PKS Maluku, Jalil Renyaan, serta sejumlah pengurus PKS.

Penyaluran bantuan itu menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas PKS terhadap warga yang tengah menghadapi masa sulit setelah musibah kebakaran.

Bagi warga yang terdampak bencana, persoalan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Kebutuhan pangan dan keperluan sehari-hari justru menjadi persoalan yang harus segera dipenuhi, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal maupun harta benda.

Dalam situasi seperti itu, bantuan kebutuhan pokok bukan sekadar simbol kepedulian. Bantuan tersebut menjadi dukungan nyata agar warga tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar sembari menata kembali kehidupan mereka setelah bencana.

Fachri Husni Alkatiri menyerahkan bantuan tersebut kepada Raja Batu Merah untuk selanjutnya diteruskan kepada warga yang terdampak. Kehadiran jajaran PKS Maluku dan PKS Kota Ambon di lokasi juga menunjukkan keterlibatan partai dalam merespons persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat.

PKS Maluku berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban warga dan membantu memenuhi kebutuhan mereka selama masa pemulihan pascakebakaran.

Namun, bantuan darurat hanyalah langkah awal. Pemulihan warga korban kebakaran membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Setelah bantuan pangan habis dan perhatian publik mulai beralih, warga tetap harus menghadapi persoalan tempat tinggal, kebutuhan keluarga, serta pemulihan kehidupan sehari-hari.

Musibah mungkin selesai ketika api padam. Bagi warga yang terdampak, persoalan justru baru dimulai.

Karena itu, masa setelah kebakaran menjadi ujian berikutnya: apakah solidaritas hanya hadir ketika musibah menjadi berita, atau benar-benar bertahan sampai warga mampu kembali berdiri dan menjalani kehidupan secara normal.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *