PIRU,Kilasnusantaranews.com — Menanggapi pemberitaan sebelumnya mengenai tiga Staf Ahli Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat yang disebut-sebut sebagai “orang buangan”, salah satu pejabat terkait, Haja Aisa Pellu, menyampaikan klarifikasi.
Melalui Telepon Whatsapnya kepada media ini, Selasa (5/5/2026), Aisa menegaskan bahwa ia tidak merasa dibuang atau disingkirkan. Ia menyatakan jabatan yang diembannya saat ini merupakan pilihannya sendiri saat mengikuti seleksi terbuka (lelang jabatan).
“Saya tidak merasa dibuang, karena jabatan ini memang yang saya pilih saat ikut lelang jabatan. Jadi soal posisi dan kedudukan, saya tidak ada masalah,” ujarnya.
Namun demikian, Aisa mengakui hingga kini ia bersama rekan-rekannya sesama Staf Ahli Bupati belum memperoleh fasilitas yang semestinya diterima pejabat setingkat Eselon II, seperti kendaraan dinas dan anggaran operasional.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi kendala serius dalam menjalankan tugas sehari-hari.
“Kalau terkait kendaraan dinas dan biaya operasional, sampai sekarang kami belum mendapatkannya sama sekali,” katanya.
Ia menjelaskan, ketiadaan fasilitas itu memaksa dirinya menggunakan kendaraan pribadi, bahkan terkadang harus menumpang kendaraan suami untuk menjalankan aktivitas kedinasan.
“Sering kali saya menggunakan sepeda motor pribadi atau menumpang di pak haji untuk ke kantor. Ini tentu menyulitkan, apalagi jika ada kegiatan di luar kantor,” ujar Aisa.
Aisa menilai kondisi tersebut tidak sebanding dengan pejabat lain di lingkungan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat yang justru telah memperoleh fasilitas, meskipun berada pada jenjang jabatan lebih rendah.
“Yang menjadi pertanyaan, kami setingkat Eselon II belum mendapat fasilitas, sementara pejabat Eselon III sudah difasilitasi, termasuk yang masih berstatus pelaksana tugas (Plt),” ucapnya.
Sebelumnya, media ini memberitakan tiga Staf Ahli Bupati Haja Aisa Pellu, Ibrahim Tuharea, dan Siti Khotijah disebut-sebut sebagai “orang buangan” karena minim fasilitas dan akses kerja. Namun, melalui klarifikasi ini, Aisa menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, meskipun ia mengakui adanya kendala fasilitas yang hingga kini belum terpenuhi.(*)














