Berita  

Lihat Kasus Penyalahgunaan Wewenang di SBB,Tokoh Pemekaran: “Kami Bukan Orang Bodoh yang Bisa Dipermainkan”  

banner 120x600

Piru, Kilasnusantaranews.com – Kasus penyalahgunaan wewenang yang melibatkan istri Bupati Seram Bagian Barat, Ny. Yeni Rosbayani Asri, mendapatkan tanggapan keras dan mendalam dari Dr. Natanel Elake. Ia adalah Akademisi Universitas Pattimura sekaligus tokoh kunci yang berjuang melahirkan Kabupaten Seram Bagian Barat menjadi daerah otonom.

Dalam pernyataannya yang tegas dan penuh makna, Dr. Natanel tidak hanya mengutuk peristiwa yang terjadi, tetapi juga menyampaikan kekecewaan mendalam sebagai orang yang ikut memperjuangkan berdirinya daerah ini. Baginya, apa yang terjadi bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan penghinaan terhadap perjuangan, martabat, dan seluruh masyarakat Seram Bagian Barat.

“Jika apa yang disampaikan dan terungkap ke publik itu benar adanya, maka selaku orang asli Seram Bagian Barat yang turut berjuang, berdarah-darah, dan melahirkan daerah ini menjadi kabupaten tersendiri, saya mengutuk dengan sekeras-kerasnya sikap arogan dan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.

Saya berbicara terus terang tanpa menutupi perasaan: Maaf saya katakan demikian, Ibu Ketua PKK, kami masyarakat Seram Bagian Barat ini bukanlah orang-orang bodoh. Kami tidak bisa diperlakukan sesuka hati, diatur semaunya, dan diinjak-injak kehormatannya. Tindakan Anda memerintah aparat negara, memaksa pejabat meninggalkan tugasnya, itu sama saja dengan menghina martabat kami semua. Anda merusak sendi-sendi birokrasi yang telah kami bangun dengan susah payah, seolah-olah kekuasaan ini milik keluarga semata, bukan milik rakyat yang telah memberikan amanah besar ini.

Kepada Sekretaris Daerah Leverne Tuasuun, saya juga berpesan dengan tegas: Janganlah memilih untuk membungkam dan bersembunyi di balik keheningan. Ketahuilah, jauh lebih terhormat bagi Anda untuk berbicara terus terang, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, dan siap menerima risiko meskipun harus kehilangan jabatan, daripada memilih diam hanya demi mempertahankan kedudukan, namun akhirnya jatuh juga karena menutupi kesalahan orang lain. Ingatlah hukum alam yang tidak pernah salah: apa yang ditabur itulah yang akan dituai. Tidak ada jabatan yang kekal di dunia ini, semuanya akan berakhir dan berganti tangan. Namun yang kekal, yang dibawa sampai ke liang lahat, dan yang menjadi kenangan abadi adalah nama baik, kehormatan, dan kesaksian bahwa kita pernah menjalankan tugas dengan jujur dan berani.

Dan kepada Bupati Asri selaku kepala daerah yang memimpin kami, sadarilah batasan peran dan tanggung jawab Anda. Batasi peran istri Anda pada tempatnya yang semestinya  cukup di lingkungan keluarga, dan jika berkaitan dengan tugas kemasyarakatan, cukup menjalankan fungsi sebagai Ketua PKK sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. Jangan biarkan urusan pribadi, keinginan hati, atau campur tangan pihak yang tidak berwenang mencampuri urusan pemerintahan, apalagi sampai merusak sistem dan nama baik daerah yang telah kami perjuangkan bertahun-tahun lamanya. Anda memimpin untuk melayani rakyat, bukan untuk membiarkan lingkungan sekitar Anda bertindak sewenang-wenang seolah tidak ada hukum dan aturan yang berlaku di bumi ini.

Seram Bagian Barat lahir dari air mata, keringat, dan harapan besar. Kami memisahkan diri dan berjuang agar kami bisa mengatur rumah tangga daerah sendiri dengan baik, bersih, dan berkeadilan. Jangan sampai harapan itu hancur lebur karena kesewenang-wenangan segelintir orang. Kami tidak akan tinggal diam melihat daerah yang kami lahirkan ini diinjak-injak dan dirusak. Rakyat memiliki mata dan hati, serta akan menilai setiap perbuatan yang terjadi.”

Sebagai orang yang ikut mendirikan daerah ini, Dr. Natanel Elake menegaskan bahwa pemerintahan bukanlah milik pribadi atau keluarga, melainkan amanah suci dari rakyat. Ia mengingatkan bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mewakili kenyataan sebenarnya gambaran resmi yang ditampilkan tidak sama dengan keadaan sesungguhnya yang terjadi di balik layar.

“Jangan sampai ada anggapan bahwa dengan memegang jabatan, maka segalanya boleh dilakukan. Ingat, kekuasaan itu sementara, tetapi dampak dari perbuatan itu abadi,” tegasnya menutup pernyataannya.

Tanggapan ini menjadi sorotan tersendiri karena datang dari tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Seram Bagian Barat, sehingga bobot dan maknanya terasa lebih dalam dan menyentuh hati seluruh lapisan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *