Viral! Komentar Pedas ASN Bongkar Teror Birokrasi SBB

"Semua Tau Tapi Takut Bernasib Sama Dengan Mantan Kadis PU, BPKAD dan Pertanian"

banner 120x600

Piru, Kilasnusantaranews.com – Sebuah komentar singkat namun sangat menyakitkan dan mematikan kini viral di media sosial, menjadi cerminan nyata kondisi birokrasi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Komentar yang muncul di pemberitaan media daring tersebut secara gamblang mengungkap alasan utama mengapa para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat memilih diam meski sadar bahwa tindakan istri Bupati memimpin upacara adalah pelanggaran berat.

“SAYA MAU KOMENTAR, SEMUA TAU TAPI TAKUT BERNASIB SAMA DENGAN MANTAN KADIS PU, KEPALA BPKAD DAN KADIS PERTANIAN… TP (TAPI) NANTI RIBUT”

Kalimat pendek tersebut mengandung makna yang sangat dalam dan menakutkan:

1. SEMUA TAU: Ini menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi pimpinan maupun bawahan untuk mengaku “tidak tahu aturan”. Seluruh elemen birokrasi paham betul bahwa memposisikan non-struktural memimpin pejabat negara adalah salah dan melanggar hukum.

2. TAPI TAKUT: Ini adalah kuncinya. Kesadaran akan kebenaran dikalahkan oleh rasa takut yang luar biasa.

3. BERNASIB SAMA DENGAN MANTAN KADIS: Ini adalah bukti sejarah yang masih segar di ingatan. Para ASN masih trauma melihat nasib mantan pejabat tinggi seperti Kadis PU, Kepala BPKAD, dan Kadis Pertanian yang dicopot atau dipinggirkan secara tidak wajar. Mereka takut jika berani bersuara, nasib yang sama akan menimpa mereka.

4. TAKUT RIBUT: Ungkapan ini menunjukkan bahwa di SBB, kebenaran dan aturan tidak lagi dihargai. Yang dihargai adalah kekuasaan. Siapa yang berani menentang, maka akan dibuat “ribut” atau dipersulit hidupnya.

Komentar ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa di lingkungan Pemkab SBB telah terjadi iklim teror dan intimidasi.

ASN tidak bekerja lagi berdasarkan aturan dan undang-undang, melainkan bekerja karena TAKUT. Mereka menelan pil pahit, membiarkan pelanggaran terjadi di depan mata, hanya demi menyelamatkan jabatan dan karir mereka dari amukan kekuasaan.

Ini menjawab pertanyaan besar publik: “Kenapa mereka diam saja?”

Jawabannya sederhana namun menyedihkan: Mereka tidak diam karena setuju, tapi diam karena takut dihancurkan seperti rekan-rekan mereka sebelumnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *