Ironis!Wara-Wiri Yeni Rosbayani Habiskan Anggaran Miliaran,Angka Stunting Di SBB Malah Naik Jadi 31’4%

Data Resmi: Dari 27,5% Merosot Jadi 31,4%, Bukti Kegagalan Program PKK

banner 120x600

Piru, Kilasnusantaranews.com – Fakta pahit dan memalukan terungkap di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Di tengah gencarnya kegiatan dan program yang digawangi oleh Ketua TP-PKK Kabupaten, Ny. Yeni Rosbayani Asri, yang terlihat sangat aktif wara-wiri dan menyerap anggaran hingga miliaran rupiah, kondisi kesehatan masyarakat justru menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan.

Berdasarkan data resmi hasil rapat koordinasi Mei 2025, angka Stunting di daerah ini justru tercatat sangat tinggi dan tidak terkendali.

Data yang dirilis menunjukkan prevalensi stunting mencapai 31,4%. Angka ini tergolong sangat tinggi dan jauh di atas standar yang diharapkan.

Yang lebih mengejutkan, angka 31,4% ini konsisten tercatat sejak hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Artinya, selama dua tahun tidak ada perbaikan, justru jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang 27,5%, maka terjadi kenaikan yang signifikan.

“Ini sangat ironis. Uang negara dikeluarkan jumlahnya miliaran rupiah, kegiatannya ramai-ramai, acaranya meriah, tapi hasilnya nol besar. Angka stunting tidak turun, malah naik dari 27,5% menjadi 31,4%. Di mana letak kegagalannya?” tanya masyarakat dengan nada kecewa.

Kritikan pedas dilayangkan oleh Ali Umar, Aktivis Maluku yang sangat prihatin melihat kondisi tersebut.

Ia menyoroti ketimpangan antara aktivitas yang tampak di permukaan dengan realita di lapangan.

“Sangat menyakitkan melihat kenyataan ini. Ketua TP-PKK terlihat sangat sibuk, wara-wiri sana sini, menghabiskan anggaran miliaran rupiah untuk berbagai kegiatan yang lebih banyak seremonial. Tapi tanya soal hasil? Anak-anak kita justru makin banyak yang stunting, angkanya melonjak jadi 31,4%,” ujar Ali Umar dengan tegas.

Ali menegaskan, ini adalah bukti nyata bahwa program yang dijalankan tidak efektif dan tidak tepat sasaran.

“Uang rakyat habis tak bersisa, tapi generasi penerus justru terancam gagal tumbuh. Ini namanya bukan pembangunan, ini namanya pemborosan dan kegagalan manajemen yang parah. Sibuk minta anggaran, sibuk bikin acara, tapi lupa tujuan utamanya menyehatkan anak-anak,” kritiknya tajam.

Masyarakat kini mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran. Jika dengan biaya besar dan aktivitas padat hasilnya masih seburuk ini, maka sangat jelas bahwa program tersebut lebih banyak bersifat pencitraan dan formalitas, bukan bekerja serius menyelesaikan masalah gizi.

“Jangan cuma sibuk tampil hebat di depan kamera dan di atas panggung. Anak-anak SBB butuh gizi baik, bukan butuh foto kegiatan. Angka 31,4% itu adalah bukti nyata kegagalan yang tidak bisa ditutup-tutupi,” tandas Ali Umar.

Dengan data yang ada, publik menuntut evaluasi total. Jangan biarkan uang rakyat habis, sementara masa depan anak-anak daerah ini justru terancam bahaya stunting yang semakin tinggi angkanya.

Kegagalan ini harus dipertanggungjawabkan!.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *