KARO, KilasNusantaraNews.com — Febiola Br Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang disebut keluarga dikenal sebagai anak berprestasi, kini harus berjuang melawan kondisi kesehatan yang membuatnya kehilangan kemampuan mengenali orang-orang terdekat.
Febiola masih menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisinya jauh dari gambaran seorang siswi yang sebelumnya dikenal keluarga sebagai anak yang selalu berprestasi. Dalam unggahan yang beredar, keluarga menggambarkan perubahan drastis itu dengan kalimat: “Anakku dulu selalu juara satu, kini bahkan tak lagi mengingat keluarganya.”
Ayah Febiola, Icuk Sugiarto Purba, mengatakan putrinya mengalami gangguan ingatan. Febiola disebut tidak lagi mengenali teman, guru, bahkan anggota keluarganya.
Keluarga memperkirakan gangguan ingatan tersebut mencapai sekitar 70 persen.
Sejak 13 Agustus 2026, Febiola disebut telah menjalani perawatan di lima rumah sakit. Panjangnya proses pengobatan membuat keluarga bukan hanya menghadapi kekhawatiran atas kondisi anak, tetapi juga beban biaya yang terus bertambah.
Di sinilah persoalan MBG membutuhkan jawaban yang lebih serius.
Jika dugaan keracunan itu benar-benar berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi Febiola, maka pertanyaannya bukan hanya siapa yang sakit, melainkan bagaimana makanan untuk anak sekolah bisa sampai menimbulkan dugaan gangguan kesehatan serius?
Siapa yang memeriksa bahan makanan? Siapa yang memastikan proses pengolahan memenuhi standar keamanan pangan? Bagaimana makanan didistribusikan hingga dikonsumsi siswa? Dan yang paling penting, siapa yang bertanggung jawab ketika seorang anak harus menjalani perawatan panjang?
Pertanyaan tersebut tidak boleh dijawab dengan asumsi.
Hubungan antara kondisi Febiola dan makanan MBG harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis, uji laboratorium, serta investigasi resmi. Tanpa itu, tuduhan keracunan masih merupakan dugaan.
Namun, kondisi Febiola yang disebut keluarga mengalami gangguan ingatan serius tetap membutuhkan perhatian negara.
Program MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Karena itu, standar keamanan pangan seharusnya berada di garis depan pelaksanaannya. Makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi kandungan nutrisi; makanan tersebut juga harus aman dikonsumsi.
Keluarga Febiola berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan penanganan terbaik sekaligus mengusut secara terbuka penyebab kondisi yang dialami anak mereka.
Mereka juga mulai menghadapi kesulitan biaya pengobatan karena Febiola harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit dan diperkirakan masih membutuhkan penanganan dalam waktu panjang.
Kasus ini menjadi ujian bagi mekanisme pengawasan MBG. Pemerintah perlu memastikan apakah kasus Febiola berdiri sendiri atau memiliki kaitan dengan persoalan dalam rantai penyediaan makanan.
Jika terbukti ada kelalaian, pertanggungjawaban tidak boleh berhenti pada permintaan maaf. Harus ada evaluasi dan tindakan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab, sekaligus jaminan agar kasus serupa tidak berulang.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar satu porsi makanan.
Yang dipertaruhkan adalah keselamatan anak-anak yang menjadi penerima manfaat program negara.
Dan bagi keluarga Febiola, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: mereka ingin anak yang dahulu dikenal berprestasi itu kembali mengenali keluarganya, kembali sehat, dan kembali menjalani kehidupannya seperti sebelum kondisi tersebut terjadi.(*)














