JAKARTA,Kilasnusantaranews.com — Kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ratusan bangunan di kawasan permukiman adat Suku Sasak dilaporkan terdampak. Ratusan warga pun harus menghadapi kehilangan tempat tinggal.
Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PKS, Saadiah Uluputty, meminta pemerintah dan aparat penegak hukum tidak berhenti pada penanganan korban dan pemulihan pascakebakaran. Ia mendesak penyebab kebakaran diusut secara menyeluruh dan transparan.
“Saya meminta agar penyebab kebakaran Desa Adat Sade diusut tuntas. Jangan sampai setelah api padam, pertanyaan masyarakat justru dibiarkan tanpa jawaban,” kata Saadiah.
Menurut Saadiah, Desa Adat Sade memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kawasan permukiman. Sade merupakan bagian dari sejarah, identitas, dan warisan budaya masyarakat Sasak yang diwariskan lintas generasi.
“Yang terbakar bukan hanya bangunan. Ada rumah, ada kenangan, ada sejarah, ada warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, negara harus hadir,” ujarnya.
Aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara dengan melibatkan tim Inafis. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan barang bukti, mendokumentasikan lokasi kejadian, serta meminta keterangan dari saksi dan warga terdampak.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Saadiah meminta aparat tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan sebelum seluruh bukti diperiksa.
“Apakah faktor kelistrikan, kelalaian, atau faktor lainnya, semuanya harus dibuktikan melalui penyelidikan yang profesional. Masyarakat berhak mengetahui kebenarannya,” kata dia.
Ia juga mendorong pemeriksaan secara menyeluruh, termasuk melalui laboratorium forensik apabila diperlukan. Menurut Saadiah, transparansi penting untuk memastikan tidak ada spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Saadiah meminta pemerintah pusat dan daerah segera memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Bantuan tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, pendidikan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan dinilai harus menjadi prioritas.
Namun, pemulihan Sade, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan kembali bangunan yang terbakar. Rekonstruksi harus mempertahankan karakter, nilai adat, dan identitas budaya masyarakat setempat.
“Kita ingin Sade bangkit. Tetapi ketika dibangun kembali, jangan sampai identitas dan nilai adatnya hilang. Pemulihan harus menghadirkan keselamatan, kepastian bagi warga, sekaligus menjaga warisan budaya,” ujarnya.
Saadiah juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem pencegahan dan mitigasi kebakaran di kawasan permukiman adat dan destinasi wisata budaya. Tragedi Sade, menurut dia, semestinya menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan terhadap kawasan adat lainnya.
“Kita berduka untuk Sade. Tetapi dari duka ini harus lahir evaluasi dan pembenahan. Jangan sampai kejadian serupa terulang di kawasan adat lainnya,” tutur Saadiah.
Ia menegaskan, penanganan tragedi Sade memiliki dua sisi yang sama penting: menyelamatkan warga dan memastikan penyebab kebakaran terungkap berdasarkan bukti.
“Usut tuntas penyebabnya. Lindungi masyarakatnya. Selamatkan warisan budayanya. Jangan biarkan kebenaran ikut terbakar bersama rumah-rumah Sade,” kata Saadiah.(*)














