INAMOSOL,Kilasnusantaranews.com — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat menggelar Gerakan Bersih-bersih Masjid atau GEBER MAS di Masjid Al Muhajirin, Dusun Amaina Kilo 8, Desa Hunitetu, Kecamatan Inamosol, pada Ahad, 9 Agustus 2026. Kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali rumah ibadah yang sempat terbengkalai selama puluhan tahun akibat konflik sosial Maluku 1999.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat, H. Djafar Tuny, S.Ag., memimpin langsung kegiatan tersebut. Ia didampingi Kepala Seksi Bimas Islam H. M. Iksan Narahaubun serta Sekretaris MUI sekaligus Ketua Baznas Kabupaten Seram Bagian Barat, Ustadz Syuaib Pattimura.
Selain membersihkan lingkungan masjid, jajaran Kemenag SBB bersama masyarakat juga melakukan penanaman pohon. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari program ASRI—Aman, Sejuk, Rindang, Indah—serta implementasi gagasan ekoteologi Kementerian Agama yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Masjid Al Muhajirin memiliki sejarah tersendiri. Rumah ibadah tersebut telah memiliki sertifikat tanah wakaf Nomor 17 yang diterbitkan Kantor Badan Pertanahan Nasional Seram Bagian Barat pada 2012. Masjid itu disebut sebagai satu-satunya masjid di Kecamatan Inamosol.
Namun, masjid tersebut kemudian terbengkalai setelah masyarakat muslim Dusun Amaina meninggalkan wilayah itu akibat konflik sosial yang melanda Maluku pada 1999.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, sejumlah warga asli Dusun Amaina yang lahir dan besar di wilayah tersebut kembali datang dan ikut dalam kegiatan GEBER MAS bersama jajaran Kemenag SBB.
Kembalinya warga tersebut tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan sosial yang masih tersisa. Dalam kegiatan itu disebutkan bahwa keberadaan sebagian warga yang kembali belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat sekitar.
Situasi tersebut membuat kegiatan bersih-bersih masjid tidak sekadar menjadi agenda lingkungan atau keagamaan. Kegiatan itu juga membawa pesan tentang pentingnya pemulihan hubungan sosial setelah konflik.
Djafar Tuny mengajak seluruh pihak menjaga hubungan kekeluargaan dan keharmonisan kehidupan orang basudara di bumi Saka Mese Nusa.
“Kita butuh dialog dan pendekatan bersama, melibatkan pemerintah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga pemerintah negeri dan masyarakat setempat. Harapannya, tumbuh kesepahaman dan perdamaian yang sejati di Kabupaten Seram Bagian Barat,” kata Djafar.
Menurut dia, menghidupkan kembali masjid tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan membersihkan lingkungannya. Pemulihan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat serta ruang dialog untuk membangun kembali kepercayaan yang pernah rusak akibat konflik.
Penanaman pohon dalam kegiatan tersebut menjadi bagian lain dari pesan yang dibawa Kemenag SBB. Lingkungan yang bersih, hijau dan terawat diharapkan berjalan seiring dengan kehidupan keagamaan dan hubungan sosial yang harmonis.
Djafar mengatakan GEBER MAS dan penanaman pohon di Masjid Al Muhajirin diharapkan menjadi awal untuk menghidupkan kembali rumah ibadah sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat.
“Kegiatan ini diharapkan bukan hanya membersihkan dan menghidupkan kembali masjid yang terbengkalai, tetapi juga menjadi titik awal pemulihan hubungan, merajut kembali persaudaraan yang sempat terputus, dan menanam harapan perdamaian di bumi Saka Mese Nusa,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Di tengah simbol perayaan kemerdekaan, GEBER MAS di Masjid Al Muhajirin membawa pesan yang lebih panjang: bahwa kemerdekaan juga berarti kesempatan bagi masyarakat untuk kembali membangun kehidupan bersama setelah luka konflik.(*)














