Berita  

Dua Hari Hanyut di Laut, Tiga Nelayan di SBB Ditemukan Selamat Berkat Operasi SAR Polairud dan Warga

banner 120x600

SBB,KilasNusantaraNews.com – Tiga nelayan asal Dusun Uhua, Desa Buano Utara, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), ditemukan selamat setelah perahu mereka hanyut selama kurang lebih dua hari akibat kerusakan mesin. Tim gabungan Satpolairud Polres SBB dan masyarakat menemukan mereka di sebuah rompong nelayan milik warga Dusun Lirang pada Senin malam, 26 Oktober 2026.

Ketiga nelayan itu adalah Said Ninilouw, 56 tahun, Ruzilang Ninilouw, 57 tahun, dan Adian Tuhuteru, 13 tahun. Mereka ditemukan pada pukul 22.20 WIT dalam kondisi selamat, sekitar 20,18 mil laut dari titik acuan pencarian.

Operasi pencarian dipimpin Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Kasat Polairud) Polres SBB, IPTU Piter N. Souhoka, bersama personel kepolisian dan unsur masyarakat. Informasi mengenai dugaan lokasi terakhir para korban menjadi petunjuk penting dalam upaya pencarian tersebut.

Peristiwa bermula pada Sabtu, 24 Oktober 2026, sekitar pukul 08.00 WIT. Ketiga nelayan bertolak dari Dusun Pele Jaya, Kepulauan Manipa, menggunakan perahu jenis long boat berbahan body fiber yang dilengkapi mesin Yamaha berkekuatan 15 PK.

Dalam perjalanan, mesin perahu mengalami kerusakan pada busi sehingga tidak dapat dihidupkan kembali. Perahu kemudian hanyut terbawa arus laut.

Situasi semakin sulit ketika kabut asap tebal menghalangi jarak pandang. Ketiganya kesulitan melihat pulau-pulau di sekitar dan kehilangan orientasi arah selama kurang lebih dua hari.

Di tengah kondisi tersebut, mereka menemukan sebuah rompong nelayan milik warga Dusun Lirang. Ketiganya kemudian mengikatkan perahu di rompong itu sambil menunggu pertolongan.

Satpolairud Polres SBB menerima informasi mengenai hilangnya ketiga nelayan pada Minggu, 25 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 WIT. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kepolisian untuk melakukan upaya pencarian.

Perkembangan penting terjadi pada Senin, 26 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 WIT. Kasat Polairud Polres SBB, IPTU Piter N. Souhoka, menerima informasi dari Ahmad Tamalene, warga Desa Buano Utara, mengenai dugaan lokasi terakhir keberadaan ketiga nelayan.

Informasi itu kemudian ditindaklanjuti oleh tim gabungan yang terdiri atas personel Satpolairud dan unsur masyarakat. Tim bergerak menuju lokasi yang diinformasikan untuk memastikan keberadaan para korban.

Sekitar dua jam setelah informasi tersebut diterima, tepatnya pukul 22.20 WIT, tim berhasil menemukan ketiga nelayan di rompong milik masyarakat Dusun Lirang. Mereka ditemukan dalam keadaan selamat setelah perahu yang digunakan mengalami kerusakan mesin dan hanyut terbawa arus.

Pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 00.16 WIT, tim gabungan tiba dan merapat di Dusun Uhua. Ketiga nelayan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Penyerahan tersebut sekaligus menandai berakhirnya operasi pencarian dan pertolongan atau SAR.

Kapolres SBB, AKBP Refindo Pradikta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., mengapresiasi personel Satpolairud dan masyarakat yang terlibat dalam pencarian hingga ketiga nelayan ditemukan.

Menurut dia, koordinasi dan kepedulian masyarakat berperan penting dalam membantu penanganan keadaan darurat di wilayah perairan.

Kapolres juga mengingatkan nelayan tradisional agar mengutamakan keselamatan sebelum melaut. Pemeriksaan mesin, kondisi perahu, dan kelengkapan keselamatan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut.

Nelayan juga diimbau membawa alat komunikasi, kompas, serta perangkat navigasi seperti GPS (Global Positioning System). Jika jarak pandang terganggu akibat kabut asap atau kondisi alam lainnya, perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan.

Selain itu, keluarga perlu mengetahui tujuan melaut dan perkiraan waktu kepulangan agar dapat segera melaporkan apabila nelayan belum kembali sesuai jadwal.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gangguan mesin dan terbatasnya jarak pandang dapat menimbulkan risiko serius bagi nelayan. Kesiapan peralatan, informasi perjalanan, serta respons cepat kepolisian dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya melindungi keselamatan warga di laut.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *