Berita  

Saadiah Uluputty Ajak Mahasiswa UM Maluku Jadi Penggerak Kemajuan Daerah

banner 120x600

AMBON, KilasNusantaraNews.com — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) daerah pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty, ST., mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku) mengamalkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan dan berperan aktif dalam mendorong kemajuan daerah.

Ajakan tersebut disampaikan Saadiah saat memberikan materi dalam rangkaian Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru (Mastamaru) UM Maluku Tahun Akademik 2026/2027 di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Maluku, Ambon, Senin (28/9/2026).

Dalam kegiatan sosialisasi empat pilar MPR RI itu, Saadiah mengangkat tema “Peran Mahasiswa sebagai Penggerak Kemajuan Daerah: Membangun Generasi yang Inklusif, Progresif, dan Berintegritas.”

Ia menekankan, mahasiswa tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik dan memperoleh gelar sarjana. Perguruan tinggi juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Mahasiswa jangan hanya menjadi penonton terhadap persoalan daerah. Mahasiswa harus berani berpikir, menghadirkan gagasan, melakukan riset, berkolaborasi, dan ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” demikian pesan Saadiah dalam kegiatan tersebut.

Saadiah menjelaskan, empat pilar MPR RI meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan teoritis atau sekadar materi yang dihafalkan. Implementasinya perlu terlihat dalam sikap, perilaku, dan tindakan sehari-hari, termasuk di lingkungan kampus.

Pancasila menjadi dasar negara sekaligus pedoman dalam membangun kehidupan bersama yang menjunjung kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Sementara itu, UUD 1945 menjadi landasan konstitusional dalam penyelenggaraan negara serta pengaturan hak dan kewajiban warga negara.

Adapun NKRI menegaskan pentingnya menjaga persatuan nasional dengan tetap memberikan ruang bagi setiap daerah untuk berkontribusi terhadap pembangunan. Sementara Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan masyarakat untuk menghormati perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan.

Bagi mahasiswa Maluku, Saadiah menilai nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat karena daerah ini memiliki karakter kepulauan serta keragaman sosial dan budaya yang perlu dijaga sebagai kekuatan bersama.

Saadiah juga mengingatkan pentingnya menjadikan kampus sebagai ruang dialog yang sehat dan terbuka. Mahasiswa, menurut dia, perlu membiasakan diri menyampaikan pendapat secara santun, menguji gagasan berdasarkan data, serta menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.

Pengamalan nilai kebangsaan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menghormati teman yang berbeda keyakinan, menolak diskriminasi, membangun kerja sama lintas kelompok, dan menjaga persaudaraan.

Sikap inklusif tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya memahami persatuan sebagai konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan kampus dan masyarakat.

Di tengah keberagaman Maluku, mahasiswa diharapkan menjadi generasi yang mampu merawat persaudaraan sekaligus mendorong perubahan melalui pemikiran kritis dan tindakan nyata.

Selain penguatan karakter kebangsaan, Saadiah mendorong mahasiswa UM Maluku menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Maluku masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konektivitas antarpulau, pemerataan pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan pelayanan publik, hingga optimalisasi potensi kelautan dan perikanan.

Persoalan tersebut, menurut dia, membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, kreativitas, integritas, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

Mahasiswa dapat mengambil peran melalui penelitian, inovasi digital, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan ekonomi kelautan, budidaya rumput laut, pengembangan pariwisata, serta promosi produk lokal.

Saadiah menilai kontribusi generasi muda tidak harus selalu diwujudkan melalui jabatan formal. Mahasiswa dapat memulai perubahan dari ruang kelas, organisasi kemahasiswaan, kegiatan penelitian, gerakan sosial, hingga program pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa kecerdasan akademik perlu berjalan seiring dengan integritas. Kejujuran dalam belajar dan penelitian, kemampuan memilah informasi, serta tanggung jawab dalam menggunakan media sosial menjadi bagian penting dari karakter mahasiswa.

Melalui kegiatan tersebut, Saadiah berharap mahasiswa baru UM Maluku menjadikan masa perkuliahan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan.

Ia mendorong mahasiswa untuk berani menyampaikan gagasan berdasarkan data, menghargai perbedaan pandangan, membangun kolaborasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menempatkan nilai kebangsaan sebagai landasan dalam menjawab tantangan pembangunan, bukan hanya sebagai wacana dalam kegiatan seremonial.

Mahasiswa Maluku diharapkan mampu menjadi generasi yang berintegritas, menghargai keberagaman, serta menghadirkan solusi bagi persoalan daerah.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki karakter, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap kemajuan Maluku serta Indonesia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *