AMBON,Kilasnusantaranews.com — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Daerah Pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty, mengajak generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam menentukan arah masa depan bangsa. Pesan itu disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diikuti siswa SMP dan SMA IT As-Salam di Kota Ambon, Senin, 16 Maret 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Saadiah menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan sejarah bangsa. Menurut dia, generasi muda harus tampil sebagai penggerak perubahan yang memiliki visi, kapasitas, dan semangat kebangsaan yang kuat.
“Pemuda hari ini adalah arsitek masa depan. Mari bergerak, belajar, dan memimpin untuk perubahan. Pemuda bukan hanya penonton sejarah, tetapi perancang arah perubahan bangsa,” kata Saadiah di hadapan para peserta.
Saadiah menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah berbagai tantangan sosial, politik, dan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Empat pilar tersebut meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat keberagaman.
Menurut Saadiah, penguatan wawasan kebangsaan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter kepemimpinan. Ia menekankan tiga aspek utama yang perlu dimiliki generasi muda, yakni integritas, kapasitas, dan spiritualitas.
Integritas, kata dia, menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan publik. Sementara kapasitas berkaitan dengan kemampuan meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan daya saing. Adapun spiritualitas diperlukan agar pemimpin mampu menjalankan amanah dengan hati nurani dan orientasi pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Saadiah juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai sarana membentuk pola pikir dan memperluas wawasan generasi muda. Ia mendorong para siswa untuk menguasai perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan keagamaan.
“Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi bagaimana membentuk cara berpikir yang kritis dan berkarakter. Jangan berhenti belajar, karena hidup tidak pernah berhenti mengajar,” ujarnya.
Menjelang akhir kegiatan, Saadiah mengingatkan pemuda Maluku agar tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan zaman. Ia mendorong generasi muda untuk membangun jejaring, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan sinergi positif guna menghasilkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan daerah.
Menurut dia, kemajuan Maluku membutuhkan generasi muda yang mampu bekerja sama lintas latar belakang, memanfaatkan peluang teknologi, serta memiliki semangat pengabdian kepada bangsa dan daerah.
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta tampak antusias menyampaikan pandangan serta pertanyaan terkait kepemimpinan, pendidikan, dan tantangan generasi muda di era digital.
Melalui kegiatan tersebut, Saadiah berharap lahir generasi muda Maluku yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan yang kuat dan kesiapan menjadi pemimpin masa depan.(*)














